Monday, May 26, 2008

Pilkada


Sabtu-Ahad yang lalu saya melakukan perjalanan dari Mojokerto ke Tuban. Berangkat pukul 06.00 pagi dengan bis umum bersama 3 orang sahabat. Kami harus ganti bis sebanyak 3 kali untuk sampai di tempat tujuan, gedung BLKI Kabupaten Tuban.
Sepanjang perjalanan saya tertarik untuk mengamati spanduk-spanduk dan baliho yang mulai semakin banyak memenuhi ruang-ruang di pinggir jalan. Yang paling menarik adalah spanduk dan/atau baliho dimana ditampilkan satu atau dua orang tokoh ditambah satu kalimat tertentu.

- Saatnya Pejuang memimpin Jawa Timur
- Pemimpin Jujur Rakyat Makmur
- APBD untuk Rakyat
- Kami tidak memberi janji tapi kami siap mengabdi
- Melayani sepenuhi hati
dlsb......

Ya, itulah spanduk kampanye pilgub Jatim yang akan segera digelar akhir Juli mendatang. Saya tersenyum kecut melihat itu semua.

Pertama, Pejuang itu mestinya seperti Rasulullah SAW. Betul-betul berjuang bersama-sama rakyat. Hidup ditengah-tengah masyarakat, menjalani suka dan duka bersama, hingga mencapai puncak kejayaan. Tetapi jika kita lihat kondisi sekarang sangat jauh panggang dari api. Yang 'ngaku' Pejuang dan memperjuangkan rakyat, hidupnya nun jauh diatas singgasana kemewahan dunia sementara rakyatnya berada pada posisi yang berlawanan. Hidupnya susah dan menderita.

Kedua, Pemimpin Jujur? Kalau ada, Indonesia sudah maju dari dulu. Kini Jujur adalah barang langka, apalagi bagi politikus. Jaman sekarang kalau ada orang jujur, tidak lantas disuka tapi justru dibenci. Ada kawan saya yang dibilang "wong kok kejujuren" (jadi orang kok terlalu jujur). Aneh.. kok ada pernyataan seperti ini. Jujur itu kan mesti 100%, apa ada yang lebih dari 100%. Kalau tingkat kejujurannya kurang dari 100% itu namanya sudah TIDAK JUJUR. So.. kalau ada cagub yang jujur, pasti dia tidak akan terpilih. Dan saya yakin masyarakat pasti tidak percaya kalau ada cagub yang jujur. Bagaimana bisa jujur kalau untuk pencalonan aja harus keluar duit ratusan milyar? Kalau dia jujur jadi gubernur 5 tahun uang pencalonannya tidak akan kembali jika hanya mengandalkan gaji saja. Jadi... kita tidak akan pernah menemukan pemimpin yang jujur sampai Islam memimpin di negeri ini.

0 comments: