Thursday, August 18, 2011

Untukmu, Mujahidku...


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Abdullah Izzan Roshif, anakku...

Hari ini, 19 Agustus 2011, menurut hitungan orang pada umumnya usiamu genap 14 tahun. Tetapi hakekatnya usiamu telah berkurang 14 tahun.
Dan umumnya orang akan merayakannya sebagai hari ulang tahun, dengan bergembira yang cenderung berfoya-foya. Tetapi bagi orang yang cerdas, hari ini justru momen untuk merenungi makna hidup dan kehidupan.

Imam Ghazali pernah bertanya pada murid-muridnya, apa yang paling dekat dengan kita? Mereka menjawab dengan berbagai jawaban, semuanya benar, hanya saja menurut beliau yang paling dekat dengan kita adalah KEMATIAN.

Ya.., Kematian setiap saat mengintai kita. Maka orang yang paling cerdas adalah mereka yang banyak mengigat Mati, dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi Kematian itu. Sebab, Hidup yang sesugguhnya adalah hidup sesudah mati.

Anakku, sungguh, Ayah dan Umi' sangat sayang dan cinta kepadamu. Ingin rasanya setiap hari kita selalu bersama, berbagi senang dan gembira bersama-sama. Namun keinginan selalu bersama itu harus disisihkan, agar engkau bisa belajar dengan baik, belajar arti hidup dan menapaki kehidupan ini sebagaimana mestinya. Agar engkau bisa menyiapkan bekal untuk hari esok, sebaik-baiknya.

Mujahidku, Ayah dan Umi' sangat bersyukur pada Allah memiliki anak yang punya cita-cita luar biasa, Kami bangga padamu dan sangat mendukung cita-citamu. Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanmu.

Hiduplah bersama Al-Qur-an, baca, renungi, hafalkan, amalkan, dan dakwahkan, Insya Allah Perjalanan hidupmu akan senantiasa menemui kemudahan dan kesuksesan. Dan pada saatnya nanti insya Allah kami akan membanggakanmu di hadapan Allah SWT.

Selamat berjuang Mujahidku.... kami senantiasa mendoakan dan meridhoimu...

Semoga ridho Allah SWT. senantiasa mengiringimu... Amin ya Allah yaa Rabbal 'aalamiin.

Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Banyuwangi, 19 Agustus 2011
Yang Sangat Menyayangimu,


AYAH, UMI'

Sunday, September 14, 2008

Belajar Islam : Prinsip Pergiliran Zaman

Ketika belakangan ini usaha penegakan tatanan kehidupan Qur’ani pada level eksekutif dan legislatif disalahartikan, bahkan dikhawatirkan terjadi disintegrasi bangsa, itu adalah sesuatu yang wajar. Karena di belahan dunia manapun belum terwujud prototipe negara yang menegakkan syariat secara formal dan komperhensif.

Jika penerapan tatanan ilahi di kepingan-kepingan bumi yang sempit di era globalisasi saat ini tanpa direstui oleh kekuatan internasional kuffar, maka akan menjadi bulan-bulanan. Sebut saja Iran, Pakistan, Sudan yang berusaha menerapkan syariat Islam, maka akan ditemukan catatan-catatan yang penuh dengan kekurangan dan ketidakberdayaan. Ketika kaum kafir internasional menghadapi kaum muslimin pada skala global, maka penyelesaian masalah kaum muslimin tidak bisa diselesaikan secara lokal.
Tepat sekali sebagaimana yang disinyalir Syekh Hasan al-Banna, bahwa tahapan perjuangan ummat setelah pembebasan negeri dari penjajahan asing (tahrirul wathan) adalah memperbaiki pemerintahan yang ada agar kondusif dalam penegakan tatanan ilahi (ishlahul hukumah). Adapun yang terkait dengan format politik Islam, tatanan resmi yang Islami dalam kehidupan bernegara baru terjadi pada tahapan penegakan Khilafah Islam internasional (iqomatul khilafah al-Islamiyah al-‘alamiyah) nanti.
Mungkin ada yang bertanya dan meragukan statemen diatas. Itu ‘kan terjadi pada 15 abad yang silam, tentu berbeda dengan kondisi kita sekarang ini. Manusia pada masa jahiliyah dahulu dengan zaman jahiliyah sekarang (jahiliyah fil qarnil ‘isyrin) adalah sama. Ketika merasa lapar membutuhkan makan, ketika haus perlu minum dan ketika ingin memenuhi kebutuhan biologis perlu nikah, dll. Zaman bisa berubah, tetapi manusianya pada prinsipnya tidak berubah. Yang berbeda hanya produk materialnya saja.
Manusia sekarang berada di jurang kehancuran. Membutuhkan kehadiran sistem kehidupan yang tidak sekedar menonjolkan daya cipta material, tetapi memiliki daya kendali capaian teknologi. Karena inovasi teknologi sekarang hanyalah pengembangan dari komponen teknologi yang ada. Kepemimpinan yang dirindukan manusia modern adalah yang bisa menawarkan ‘aqidah (iman) dan manhaj (pola kehidupan Islami), meminjam istilah Sayid Quthub dalam muqaddimah karyanya, Ma’alim fith Thariq (Rambu-rambu di Sepanjang Jalan Perjuangan).
Kekayaan mahal ummat inilah yang sekarang tidak diyakini oleh pemiliknya. Maka kita dituntut meyakinkan diri kita dan orang lain akan kebenaran dan orisinalitas ‘aqidah dan manhajul hayah ini. Kita memerlukan sebuah pola kepemimpinan yang menghargai capaian teknologi dan mendayagunakan secara maksimal untuk mewujudkan kehendak-kehendak Allah.

ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُوْنَ مَا شَآءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَآءَ أَنْ يَرْفَعَهَا

Kemudian akan ada raja yang menggigit, maka terjadilah apa yang Allah kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala Dia menghendaki untuk mengangkatnya.”

Belajar Islam : Prinsip Pergiliran Zaman

Prinsip pergantian zaman ini juga selaras dengan prediksi Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam besar dalam bidang hadits Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi dari Abu Hudzaifah, intelijennya Nabi shalla-llahu 'alaihi wa sallam (shahibus sirr) pada 14 abad yang silam.

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَآءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَآءَ أَنْ يَرْفَعَهَا

“Adalah (fase kepemimpinan) nubuwah ada pada kalian apa yang Allah kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala Dia menghendaki mengang-katnya.”
Inilah periode awal perjalanan sejarah ummat Islam. Saat itu ummat Islam dipimpin langsung oleh manusia paripurna (insan kamil), pemimpin orang-orang yang bertaqwa (imamul muttaqin), panglima para mujahid (qa-idul mujahidin), yaitu Muhammad shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Mereka langsung dipandu oleh figur teladan (uswatun hasanah) sejak masa kesulitan, kegoncangan (fatrah al-idhthirab) di Mekah sampai jaya di Madinah. Sejak sebelum berfikir tentang perang sampai berkali-kali terjun di medan laga. Sejak sebelum berfikir tentang format kepemimpinan sampai menjadi pemimpin yang disegani di Jazirah Arab. Manusia penunggang onta yang tertata ulang persepsi (tashawwur) dan mata hati (bashirah) mereka tentang Tuhan, alam sekitar dan diri mereka sendiri, terbukti dalam sejarah memiliki kapasitas dan kapabilitas menjadi penghulu dunia (ustad ziyatul ‘alam). Beralalulah masa keemasan itu (‘ashrudz dzahab) selama 23 tahun. Ketika Allah menghendaki, Ia mencabut masa kejayaan itu.


ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مَنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَآءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَآءَ اللهُ

أَنْ يَرْفَعَهَا
“Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj nubuwah itu, maka terjadilah apa yang Allah kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala Dia menghendaki untuk mengangkatnya.”

Inilah fase kedua perjalanan sejarah ummat Islam. Para ulama dan ahli sejarah sepakat bahwa periode ini adalah pada masa khulafaur rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Ada yang berpendapat sampai ke kurun khalifah kelima, Umar bin Abdul Aziz. Masa ini fase khalifah yang lurus, jujur dan adil. Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam melegitimasi masa kedua ini masih dalam koridor minhajin nubuwah (metode kenabian). Artinya periode pertama dan kedua ini adalah masa teladan dan rujukan (referensi) ummat Islam.

مَنْ كَانَ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ أَبَرُّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا وَأَعْمَقُهَا عِلْمًا وَأَقَلُّهَا تَكَلُّفًا أَقْوَمُهُمْ هَدْيًا وَأَحْسَنُهُمْ حَالاً قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ دِيْنِهِ فَأَعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْا آثَارَهُمْ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى اْلهُدَى اْلمُسْتَقِيْمِ (رواه أحمد عن ابن مسعود)

“Barangsiapa hendak menjadikan teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, mereka itulah yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya (sedikit mengada-ada), paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan dien-Nya. Karena itu hendaklah kalian mengenal keutamaan jasa-jasa mereka dan ikutilah jejak mereka, sebab mereka senantiasa berada di atas jalan (Allah) yang lurus.” (HR. Ahmad dari Ibnu Masud).

Thursday, August 28, 2008

Marhaban Yaa Ramadhan

Tinggal 3 hari lagi Tamu Agung kita datang berkunjung. Tidak sekedar datang, tetapi dia juga membawa oleh-oleh yang sangat luar biasa besarnya.
Selamat Datang Ramadhan, kami merindukanmu.

Semoga kita mampu meraih keutamaan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sebagai renungan, berikut ini saya tampilkan beberapa terjemahan Hadits Rasulullah SAW ttg keutamaan bulan Ramadhan.

Semoga bermanfaat...


KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya
dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang
diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintupintu
Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga
terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan,
barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'."
(HR. Ahmad dan An-Nasa'i)


2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah
mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosadosa
dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan
ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah
kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah
yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. " (HR.Ath-Thabrani, dan para
periwayatnya terpercaya).
Al-Mundziri berkata: "Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Baihaqi, keduanya dari
Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar
darinya."


3. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam
bersabda:
"Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan
kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di
sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi
mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi
Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),'Hampir tiba saatnya para hamba-Ku
yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu,
'pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak
seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir
3 malam. "Beliau ditanya, 'Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar'
Jawab beliau, 'Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika
menyelesaikan amalnya.' " (HR. Ahmad)'"
Isnad hadits tersebut dha'if, dan di antara bagiannya ada nash-Nash lain yang
memperkuatnya.

OK deh... yok kita berlomba mendapatkan keutamaannya....

Saturday, August 16, 2008

Merdeka !! (1)

Merdeka !!

Inilah kata yang banyak diucapkan dan ditulis pada bulan ini. Maklum ini adalah bulan Agustus, bulan dimana bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 1945 yang lalu. Sehingga di seluruh pelosok penjuru negeri ini semuanya sibuk ramai memperingati hari kemerdekaan bangsa Indonesia.
Dari pojok-pojok kampung yang terpencil di pelosok nusantara hingga di pusat-pusat kota metropolitan semuanya tidak ada yang ketinggalan, memperingati hari kemerdekaan ini, dengan berbagai caranya.

Biasanya rangkaian peringatan ini dimulai dengan aneka lomba-lomba, ada lomba kelereng, makan kerupuk, balap karung, hingga lomba panjat pinang, lomba gerak jalan dan karnaval. Puncak acaranya biasanya diadakan tasyakuran pada tanggal 16 sekaligus 'melekan' (bs Jawa = begadang sampai larut malam) dan diakhiri dengan upacara bendera pada tanggal 17.

Yah... begitulah rutinitas tiap tahun yang dilakukan oleh bangsa ini.

Tapi kalau dipikir-pikir kok begitu ya cara memperingati kemerdekaan, yang untuk meraihnya saja harus mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan Darah yang tidak terhitung.
Kalau para pejuang yang telah mengorbankan segalanya itu tahu begini cara kita menghargainya, apa kira-kira ndak kecewa berat?!!
Apa ndak ada cara lain yang lebih baik, yang bisa menunjukkan kebesaran bangsa ini?
Kalau begituuu terus tiap tahun, rasanya malu jadi warga negara ini.
Malu pada Allah, kok kita masih saja gak bisa bersyukur.

Surat untukmu, Anakku

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Muhammad Irfan Hussamuddin, anakku...
Hari ini, 16 Agustus 2008, tepat ketika usiamu memasuki 13 tahun

Orang kebanyakan menandai hal seperti ini sebagai ulang tahun yang dirayakan dengan suka cita, bergembira dan mengadakan pesta. Mungkin pernah terbetik pula dalam hatimu keinginan seperti itu, merayakan ulang tahun dengan pesta ceria, meniup lilin, memotong roti, dan menerima banyak hadiah.

Ketahuilah anakku, umur kita sudah ditentukan oleh Allah; 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun kita tidak tahu. Yang pasti anakku, setiap detik yang kita lalui berarti mengurangi jatah umur kita.
Hari ini berarti usiamu sudah berkurang 13 tahun, masih sisa beberapa tahun lagi atau beberapa hari lagi tidak ada yang tahu pasti. Hanya saja setelah selesai jatah umur kita jalani nanti, kita akan memasuki alam baru. Di alam baru itu hanya ada dua keadaan: nikmat atau adzab. Dan nikmat atau adzab itu kita tentukan sendiri, hari ini, dalam sisa waktu hidup kita.

Oleh karenanya, tataplah dengan sungguh-sungguh masa depanmu yang PASTI, jauh melampaui batas-batas kehidupan dunia. Jangan terlena dengan gemerlapnya dunia. Dunia ini hanya sebentar. Bukankah sudah kau rasakan hidup selama 13 tahun dan rasanya baru sebentar saja? Sekarang kamu sudah kelas 8, padahal terasa baru saja lulus MI bukan?
Ya... memang hidup kita hanya sebentar.

Pandailah memilih jalan hidup, jangan hiraukan orang berlomba mengejar dunia karena mereka sebenarnya sedang tertipu. Luruskan niat hidup kita: hanya mengabdi pada Allah SWT. dan luruskan pandangan kita bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju ALLAH SWT. Kemudian siapkan bekal, sebanyak-banyaknya.

Terimalah mushaf kecil ini, sebagai bekal yang paling berharga. Karena dengan mushaf ini kamu akan memperoleh manfaat yang teramat sangat besar bagi kehidupanmu, Dunia dan Akhirat.
Ayah sangat bahagia dan sangat bersyukur pada Allah jikalau kamu mau menghafalnya, mempelajarinya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Karena Rasulullah SAW. telah bersabda: Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah orang yang belajar Al-qur-an dan mengajarkannya.

Ayah senantiasa mendoakanmu semoga Allah SWT. mengabulkan keinginanmu untuk dapat mempelajari ilmu-Nya di tempat tinggal Rasulullah SAW.: Madinah Al-Munawaroh.

Selamat berjuang anakku.... selamat berjuang!!

Semoga berhasil meraih ridho-Nya. Amin ya Allah yaa Rabbal 'aalamiin.

Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.


Mojokerto, 16 Agustus 2008
Yang Sangat Menyayangimu,


AYAH

Monday, May 26, 2008

Pilkada


Sabtu-Ahad yang lalu saya melakukan perjalanan dari Mojokerto ke Tuban. Berangkat pukul 06.00 pagi dengan bis umum bersama 3 orang sahabat. Kami harus ganti bis sebanyak 3 kali untuk sampai di tempat tujuan, gedung BLKI Kabupaten Tuban.
Sepanjang perjalanan saya tertarik untuk mengamati spanduk-spanduk dan baliho yang mulai semakin banyak memenuhi ruang-ruang di pinggir jalan. Yang paling menarik adalah spanduk dan/atau baliho dimana ditampilkan satu atau dua orang tokoh ditambah satu kalimat tertentu.

- Saatnya Pejuang memimpin Jawa Timur
- Pemimpin Jujur Rakyat Makmur
- APBD untuk Rakyat
- Kami tidak memberi janji tapi kami siap mengabdi
- Melayani sepenuhi hati
dlsb......

Ya, itulah spanduk kampanye pilgub Jatim yang akan segera digelar akhir Juli mendatang. Saya tersenyum kecut melihat itu semua.

Pertama, Pejuang itu mestinya seperti Rasulullah SAW. Betul-betul berjuang bersama-sama rakyat. Hidup ditengah-tengah masyarakat, menjalani suka dan duka bersama, hingga mencapai puncak kejayaan. Tetapi jika kita lihat kondisi sekarang sangat jauh panggang dari api. Yang 'ngaku' Pejuang dan memperjuangkan rakyat, hidupnya nun jauh diatas singgasana kemewahan dunia sementara rakyatnya berada pada posisi yang berlawanan. Hidupnya susah dan menderita.

Kedua, Pemimpin Jujur? Kalau ada, Indonesia sudah maju dari dulu. Kini Jujur adalah barang langka, apalagi bagi politikus. Jaman sekarang kalau ada orang jujur, tidak lantas disuka tapi justru dibenci. Ada kawan saya yang dibilang "wong kok kejujuren" (jadi orang kok terlalu jujur). Aneh.. kok ada pernyataan seperti ini. Jujur itu kan mesti 100%, apa ada yang lebih dari 100%. Kalau tingkat kejujurannya kurang dari 100% itu namanya sudah TIDAK JUJUR. So.. kalau ada cagub yang jujur, pasti dia tidak akan terpilih. Dan saya yakin masyarakat pasti tidak percaya kalau ada cagub yang jujur. Bagaimana bisa jujur kalau untuk pencalonan aja harus keluar duit ratusan milyar? Kalau dia jujur jadi gubernur 5 tahun uang pencalonannya tidak akan kembali jika hanya mengandalkan gaji saja. Jadi... kita tidak akan pernah menemukan pemimpin yang jujur sampai Islam memimpin di negeri ini.